Pages

Selasa, 30 Oktober 2012

Tehnik Pembelajaran



Teknik Mengajar Listening di Kelas

Written By: Cianly
Harmer (1983) menyatakan bahwa listening (mendengarkan) sebagai suatu keterampilan berbeda dengan writing. Dalam listening, pendengar tidak dapat melihat apa yang dia dengarkan, tetapi hanya bisa mendengarkannya.
Kemampuan Mendengarkan merupakan salah satu ketrampilan dalam pelajaran bahasa Inggris yang harus dikuasai siswa bersama 3 ketrampilan lainnya yaitu membaca, menulis, dan mendengar. Dari pengalaman dan diskusi dengan beberapa siswa, banyak yang merasa kesulitan untuk bisa mencapai kompetensi yang diharapkan dalam ketrampilan ini. Seringkali, guru dalam prakteknya kurang mampu untuk mengajarkan listening yang mudah dimengerti oleh siswa. Hal ini mengakibatkan banyak siswa yang gagal dalam ujian listening dan harus mengulang.
Oleh karena itu, seorang guru yang merupakan fasilitator hendaknya memiliki keahlian untuk mampu membuat siswa merasa mudah dalam mempelajari listening. Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan oleh guru ketika mengajarkan listening di dalam kelas, diantaranya:
1. Filling Gap
Tehnik ini bisa dilakukan dengan cara mengosongi beberapa kata dalam paragraf atau dialog. Mintalah siswa mendengarkan teks lisan melalui guru atau rekaman dan mengisi kata-kata yang kosong tersebut.
2. Guessing Picture
Tehnik ini bisa dilakukan dengan menebak gambar sesuai teks lisan yang dibacakan atau didengarkan.
3. Finding Mistakes
Tehnik ini dilakukan dengan cara meminta mendengarkan teks lisan dan menggaris bawahi kata-kata yang tidak sesuai dengan teks lisan tersebut.
4. Choosing Menu
Tehnik ini dilakukan dengan meminta siswa untuk memilih menu yang sesuai dengan teks lisan.
5. Rearranging Sentences/Paragraph
Tehnik ini dilakukan dengan memberikan kalimat atau paragraf rumpang kepada siswa. Siswa diminta mendengarkan teks lisan dan menyusun kalimat/paragraf tersebut menjadi benar.
6. Matching
Tehnik ini dilakukan dengan memecah percakapan menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi setengah kalimat dan bagian kedua setengah kalimatnya. Kemudian siswa diminta mendengarkan teks percakapan lalu menjodohkan bagian pertama dan kedua sesuai teks percakapan tersebut.


9 Tehnik Mengajar Speaking (Technique for Teaching Speaking)

Kalau melihat model pembelajaran Speaking, selama ini masih mengandalkan model menghapalkan dialog kemudian maju ke depan kelas untuk mempraktekannya. Kegiatan ini dilakukan biasanya karena guru ingin agar kegiatan belajar mengajar cepat selesai tanpa repot-repot, atau tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam mengajar Speaking. Anggapan sementara, pembelajaran Speaking itu rumit dan butuh keberanian siswa untuk memproduksi ucapan. Inilah yang sering ditakutkan para guru. Mereka mengira Speaking itu butuh waktu lama dan sulit bagi siswa untuk mengadaptasinya. Okelah, mari kita telaah 9 tehnik mengajar Speaking berikut ini. Dengan tehnik-tehnik ini anggapan bahwa Speaking bagi siswa itu sulit, bisa dihilangkan.
1.      ASK AND ANSWER.
Siswa diminta melakukan tanya jawab. Prosesnya, mintalah siswa mencatat beberapa pertanyaan interview kalau perlu dihapalkan. Kemudian bebaskan siswa bertanya kepada teman di kelasnya. Sesuaikan pertanyaan dengan tema. Misal tema Personal Identitiy, Shopping List, Map dan lain-lain. Untuk mengecek apakah siswa melakukan tugas tersebut, mintalah mereka membuat catatan yang harus dilaporkan kepada guru setelah proses pembelajaran berakhir. Guru hanya memonitor siswa dan memberikan waktu untuk siswa melakukan tanya jawab.
2.      DESCRIBE AND DRAW.
Siswa dibuat berpasangan. Siswa A mempunyai gambar yang tak diketahui oleh siswa B, begitu pula sebaliknya. Siswa A menerangkan gambar yang ia punyai dan siswa B menggambar sesuai keterangan siswa A. Setelah siswa A selesai, ganti siswa B menerangkan gambarnya. Mintalah mereka membandingkan gambarnya dan memberi nilai sesuai selera mereka.
3.      DISCUSSION.
Tentukan sebuah topik dan mintalah siswa secara berkelompok mendiskusikan topik sesuai gambar. Tehnik ini cocok diterapkan bagi intermediate dan advance learners.
4.      GUESSING.
Guru atau beberapa murid mempunyai sebuah informasi yang harus ditebak oleh siswa atau kelompok lain dengan menanyakan dalam Bahasa Inggris.
5.      REMEMBERRING
Siswa menutup mata dan mengingat gambar misalnya benda di dalam kelas atau letak tempat-tempat. Tehnik ini efektif untuk mengasah daya ingat dan meminimalisir lupa terhadap kosakata.
6.      MIMING.
Seorang siswa mempraktekkan mimik tertentu semisal perasaan, melakukan suatu kegiatan, dan lainnya. Sementara siswa yang lain menebak.
7.      ORDERING.
Siswa diminta mengurutkan sesuatu dengan menanyakan dimana letaknya sampai menemukan tempat yang sesuai.
8.      COMPLETING A FORM/QUESTIONNAIRE.
Siswa bertanya jawab, atau menyediakan informasi tertentu untuk menyempurnakan sebuah formulir atau kuis. Tehnik ini efektif diterapkan pada pelajaran berhubungan dengan identitas, semisal formulir lowongan kerja, pengisian paspor dan lainnya.
9.      ROLE PLAY.
Tehnik ini cocok untuk pembelajar yang telah mencapai level intermediate dan di atasnya. Siswa mempraktekkan sebuah situasi semisal di kantor polisi, pengadilan, drama, dan lain-lain. Siswa hanya diminta menggunakan ungkapan-ungkapan yang pernah dipelajari atau menggunakan bantuan kartu. Guru bertindak memberi arahan dan memonitoring kegiatan.


Cara Mengajar Reading dengan Teknik Jigsaw

Jigsaw adalah sebuah teknik pembelajaran yang pertama kali dikenal tahun 1971. Teknik ini bermanfaat untuk melatih kemampuan mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Mengapa demikian? Karena teknik ini berisi kegiatan dimana siswa diminta mendengar dan menulis apa yang teman ucapkan, juga berbicara untuk menyampaikan materi yang telah ia baca. Langkah mengajar dengan teknik jigsaw secara umum sebagai berikut:
1.      Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 orang.
2.      Berilah kelompok 1 teks bacaan. Minta ketua kelompok membagi tugas: 1 orang membaca 1 paragraf.
3.      Berilah waktu 10 menit agar siswa memahami bacaan dalam paragraf yang mereka dapat.
4.      Setelah selesai, mintalah siswa menceritakan isi paragraf kepada teman 1 kelompok. Siswa yang lain mendengar dan mencatat apa yang teman mereka sampaikan.
5.      Jika waktu menyampaikan dan mencatat sudah selesai, mintalah ketua kelompok membaca hasilnya dan disampaikan kepada seluruh siswa di kelas.

Langkah mengajar di atas cocok jika diberikan kepada pelajar yang sudah dalam level tinggi. Dalam pelajaran bahasa Inggris untuk pemula dan menengah, cara tersebut terlalu sulit. Untuk mengatasi kesulitan tersebut kita perlu melakukan adaptasi dan modifikasi. Salah satu contoh modifikasi adalah dengan menghilangkan beberapa kata dalam teks bacaan. Simak langkah-langkah mengajar dengan teknik jigsaw untuk skills reading berikut ini:
1.      Persiapkan 4 teks bacaan yang isinya sama, namun berbeda kata yang dihilangkan. Perhatikan contoh:

Teks 1___________________________________________________________
SMP Nusa Indah has a ________ building at the back. It is ______, but it has a lot of books, magazines and __________. Some of the books are new and some others are old. Most of the books are in Indonesian. Only a few of them are in English and in Javanese. There are two librarians working in the library. They are Mr. Suparno and Mrs. Yani. Everyday there ara a lot of students coming to the library. They usually go there when they have no classes or during the breaks. many of them read the magazines or the newspaper in the reading room. Some of them borrow books to read at home.

Teks 2___________________________________________________________
SMP Nusa Indah has a library building at the back. It is small, but it has a lot of books, magazines and newspaper. Some of the books are ____ and some others are _____. Most of the books are in Indonesian. Only a few of them are in ___________ and in Javanese. There are two librarians working in the library. They are Mr. Suparno and Mrs. Yani. Everyday there ara a lot of students coming to the library. They usually go there when they have no classes or during the breaks. many of them read the magazines or the newspaper in the reading room. Some of them borrow books to read at home.

Teks 3___________________________________________________________
SMP Nusa Indah has a library building at the back. It is small, but it has a lot of books, magazines and newspaper. Some of the books are new and some others are old. Most of the books are in Indonesian. Only a few of them are in English and in Javanese. There are two librarians working in the library. They are Mr. Suparno and Mrs. Yani. Everyday there ara a lot of _________ coming to the library. They usually go ______ when they have no classes or during the ________. many of them read the magazines or the newspaper in the reading room. Some of them borrow books to read at home.

Teks 4___________________________________________________________
SMP Nusa Indah has a library building at the back. It is small, but it has a lot of books, magazines and newspaper. Some of the books are new and some others are old. Most of the books are in Indonesian. Only a few of them are in English and in Javanese. There are two librarians working in the library. They are Mr. Suparno and Mrs. Yani. Everyday there ara a lot of students coming to the library. They usually go there when they have no classes or during the breaks. many of them read the ________ or the newspaper in the _______ room. Some of them borrow books to read at ________.

2.      Buatlah siswa berkelompok. Setiap kelompok 4 orang.
3.      Berilah siswa dalam satu kelompok satu teks bacaan yang sudah dipersiapkan (lihat no 1).
4.      Berilah waktu masing-masing siswa dalam kelompok untuk membaca secara bergantian. Mintalah siswa yang tidak mendapat giliran membaca, untuk menyimak dan menulis kata yang dikosongkan sesuai yang mereka dengar.
5.      Setelah anggota kelompok mendapat giliran membaca, tunjuk 1 orang yang percaya diri untuk membacakan hasilnya di depan kelas.



Model Pengajaran Membaca

Pendekatan Pangalaman Berbahasa (PPB) dalam Pengajaran Membaca.
PPB atau LEA (Language Experience Approach) didefinikan oleh Phyllis E. Huff (1988) sebagai suatu pendekatan dalam pengajaran membaca yang melibatkan kegiatan menyimak, berbicara, membaca dan menulis sebagai cermin dari pengalaman berbahasa anak.
Oka (1983) menjelaskan PPB menganut pandangan bahwa belajar membaca merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses perkembangan bahasa siswa. Oleh karenanya belajar membaca tidak bisa dilepaskan dari keterampilan dengan PPB harus mempertimbangkan pengalaman bahasa siswa, yakni suatu metode pengajaran membaca untuk pemula yang mempertautkan pembelajaran membaca dengan pengalaman bahasa anak yang meliputi keterampilan berbahasa.
Aspek yang haurs diperhatikan dalam pembelajaran, meliputi : kemampuan berpikir dan kemampuan mengungkapkan.
Sedangkan dalam Distionary of Reading, PPB sebagai suatu pendekatan dalam pengajaran membaca yang berpangkal dari bahasa siswa itu sendiri sebagai bahan ajarnya, yakni bahan ajar untuk membaca, mengeja, menyimak, menulis dan berbicara.
Melihat tiga pendapat di atas, PPB dapat disimpulkan :
PPB meruakan suatu pendekatan pengajaran. Materi agar digali dari pembelajar sendiri atau pengalaman berbahasa si pembelajar. Pelaksana pembelajarannya melibatkan seluruh aspek keterampilan berbahasa siswa secara integrative. PPB terutama ditujukan untuk pembelajaran membaca permulaan.
Tujuan dan Asumsi PPB
Menurut Spache (1968), asumsi PPB adalah bahwa ekspresi bahasa lisan siswa berdasarkan pada pikiran, perasaan dan pengalamannya yang dapat ditulis dan dibaca yang berwujud tulisan.
Dalam kaitannya dengan perkembangan bahasa siswa, Huff mengajukan asumsi tentang bahasa, meliputi: Empat aspek keterampilan berbahasa yang bersifat catur tunggal yang memiliki tingkat keeratan hubungan yang kuat.
Pemilikan latar belakang bahasa dapat membantu siswa terhadap pemahaman makna kata yang dipelajari. Kata-kata tidak memiliki makna yang murni mandiri yang erat kaitannya dengan pengalaman pembaca. Pengkombinasian simbol-simbol visual dengan simbol-simbol bunyi yang relatif sudah dikenal dapat membantu membanyangkan atau menciptakan makna dalam pikiran pembaca.
Kata-kata yang diujarkan merupakan simbol-simbol bunyi yang mewakili makna yang dimaksudkan si pengujar. Membaca merupakan perkembangan makna dari pola-pola yang sudah dikenalnya, yaitu pola pengalaman si pembelajar.

Prosedur PPB dalam Pengajaran Membaca Permulaan

Menurut para ahli, prosedur PPB dalam pengajaran membaca permulaan, terbagi dalam empat langkah pokok, yaitu:
Langkah 1: Mengidentifikasi minat latar belakang pengalaman dan fasilitas bahasa lisan anak.
Langkah ini dapat dilakukang dengan jalan berdialog atau mengadakan percakapan ringan dengan anak. Misalnya, bertanya tentang nama, keluarga dan kesukaan.
Langkah 2: Merencanakan dan mendiskusikan pengalaman anak atau topik tertentu yang dipilih anak.
Langkah ini dimaksudkan untuk menggali pengalaman berbahasa anak melalui rangsangn tertentu yang dijadikan topik diskusi, pada langkah ini.
Langkah 3: Mencatat dan merekam bahasa (cerita) anak.
Langkah ini dimaksudkan untuk menunjukkan bukti pada anak bahwa apa yang dikemukakannya bisa dituliskan untuk memberi kepuasan batin pada anak bahwa dirinya bisa jadi penulis. Pencatatan dan perekaman bahasa anak dapat dilaksanakan di papan tulis atau di kertas karton atau juga dengan alat perekam. Penanaman rasa percaya diri, penting untuk membawa anak pada konsep kebermaknaan dalam belajar.
Langkah 4: Mengembangkan keterampilan anak sesuai dengan kebutuhan

Pada langkah ini prosedur dan kegiatan belajar mengajar sangat ditentukan oleh penggunaan metode dan teknik yang cocok. Misalnya menunjukkan bagaimana menggerakkan mata dalam proses membaca.

Alternatif Model Pembelajaran Membaca Lanjut dengan Menggunakan PPB

Skenario PBM
Langkah 1: Apersepsi
Apersepsi dimaksudkan untuk mempersiapkan anak didik pada kegiatan belajar yang dihadapi sebagai permanasan. Cara yang bisa dilakukan guru misalnya melakukan percakapan ringan ringan tentang berita atau kejadian aktual disekitar lingkungan tempat tinggal atau sekolah. Yang penting dalam langkah awal ini adalah bagaimana menciptakan suasana yang haromonis, kondusif dan menyenangkan untuk semua pihak.
Langkah 2: Mengarang bersama
Kegiatan ini dimaksudkan untuk menjaring dan menyiapkan bahan ajar membaca yang digali dari anak, untuk anak, oleh anak. Pemilihan kegaitan didasari oleh beberapa pertimbangan antara lain.
1.   Memberi kesempatan kepada sejumlah siswa untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan CBSA, pendekatan komunikatif dan keterampilan proses.
2.   Menggali mengalaman berbahasa siswa.
3.   Melatih daya pikir dan daya nalar melalui latihan antisipasi dan latihan prediksi jalan pikiran orang lain.
4.   Melatih ekspresi tulis siswa.
Langkah 3: Mendiskusikan hasil tulisan bersama
Setelah kegiatan membaca kemudian dilakukan diskusi yang diarahkan pada hal-hal yang berkenaan dengan : (a) Ide pokok dan ide penjelas, (b) Kalimat pokok dan kalimat penjelas, (c) Kalimat sumbang dari paragraf tersebut.
    Kegiatan ini merupakan kegiatan pelatihan pengembangan keterampilan siswa dalam membaca dan alat yang digunakan untuk mengembangkan keterampilan adalah bahan yang digali dari siswa sendiri.
Langkah 4: Pelatihan
Setelah kegiatan diskusi berakhir selanjutnya mantapkanlah keterampilan siswa tersebut dengan pelatihan sejenis dengan mengambil bahan bacaan yang konkret dari sumber-sumber bacaan lain.

Metode SQ3R dalam Pengajaran Membaca
Deskripsi SQ3R, meliputi :
S =    Survey,  artinya  meninjau,  meneliti,  dan  menelaah    bagian-bagian permulaan buku seperti halaman judul,, kata pengantar, daftas isi, judul buku, sub bab, indeks dan lain-lain.
Q =     Question (bertanya) sebelum memulai kegiatan membaca hendaknya pembaca merumuskan pertanyaan-pertanyan sebagai informasi fokus. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat dapat digali dari prediksi-prediksi pembaca pada saat melakukan survei dan juga dapa muncul karena dorongan/hasrat ingin tahu sesuatu hal.
R-1      Read (membaca) untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dirumuskan pada tahap 2 tadi, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan membaca yang sesungguhnya.
R-2     Recite (menceritakan kembali) yaitu suatu kegiatan menceritakan kembali setelah pembaca merasa yakin bahwa sejumlah pertanyaan yang dirumuskan telah terpenuhi, informasi-informasi yang diperlukan telah diperoleh. Kegiatan ini biasanya disertai dengan pembuatan ikhtisar bacaan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan ikhtisar bacaan adalah :
a.  Ikhtisar dibuat dengan kata-kata sendiri.
b.  Singkat, padat dan jelas, yang mencakup butir-butir penting isi bacaan.
c.  Kegiatan ini dilakukan tidak diiringi dengan kegiatan lain misalnya mencatat sambil membaca.
R-3      Review (meninjau kembali)
Kegiatan ini dimaksudkan untuk memeriksa ulang bagian-bagian yang telah dibaca dan dipahami sebelum meneruska pada bacaan bab lain.
  
Alternatif Model Pembelajaran Membaca Buku dengan Metode SQ3R
a.      Apersepsi|
Kegiatan ini berkenaan dengan bagaimana cara membaca dan mempelajari buku yang diawali langkah oleh guru dengan menciptakan suatu kondisi agar siswa siap belajar.
b.      Melakukan survei buku
Langkah ini dimaksudkan untuk menunjuki para siswa tentang kelengkapan sebuah buku serta fungsi dari masing-masing kelengkapan tersebut. Kelengkapan-kelengkapan itu misalnya halaman judul, kata pengantar, daftar isi, indeks, riwayat hidup penulis (pengarang).
c.      Latihan membuat pertanyaan
Setelah latihan menelaah sebuah bacaan langkah selanjutnya adalah latihan membuat pertanyaan berdasarkan masukan informasi yang diperoleh dari hasil penelaahan.
d.      Membaca
Langkah ini adalah kegiatan membaca mandiri. Anak diminta untuk membaca uraian bab tersebut.
e.      Mencatat jawaban pertanyaan
Seletah giatan membaca tuntas yang diikuti kegiatan menceritakan kembali, kemudian sebagai tolak ukur siswa dapat memanfaatkan pertanyaan-pertanyaan sebagai pemandu penulisan ulang hasil bacaan, sehingga guru dapat menilai seberapa jauh kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan dan mereproduksi kembali hasil bacaan tersebut. jika siswa dapat memahami buku yang dibacanya kemudian dilakukan pembahasan jawaban yang harus diikuti dengan latihan membuat ikhtisar bacaan.
f.        Meninjau ulang kegiatan dan hasil bacaan
Sebelum menutup pelajaran, siswa dan guru dapat memeriksa ulang kembali bagian-bagian buku mulai dari halaman judul, hingga akhir halaman buku yang dapat menyegarkan kembali ingatan dan pemahaman kita terhadap hasil bacaan kita.
Kegiatan ini hendaknya diikuti dengan pembuatan bagan/skema tentang organisasi pikiran anak-anak didik kita.

Teknik Scramble dalam Pengajaran Membaca
Istilah Scramble berasal dari bahasa Inggris yang berarti “perebutan, pertarungan, perjuangan”. Teknik scramble dipakai untuk jenis permainan anak-anak yang merupakan latihan pengembangan dan peningkatan wawasan pemikiran kosakata. Sesuai dengan sifat jawabannya scramble terdiri atas bermacam-macam bentuk yakni :
a.    Scramble kata, yakni sebuah permainan menyusun kata-kata dan huruf-huruf yang telah dikacaukan letaknya sehingga membentuk suatu kata tertentu yang bermakna misalnya :
* alpjera    ……..   pelajar
* ktarsurt …….    struktur
b.    Scramble kalimat : yakni sebuah permainan menyusun kalimat dari kata-kata acak. Bentuk kalimat hendaknya logis, bermakna, tepat, dan benar.
c.    Scramble wacana : yakni sebuah permainan menyusun wacana logis berdasarkan kalimat-kalimat acak. Hasil susunan wacana hendaknya logis, bermakna.

ALTERNATIF MODEL PENGAJARAN MEMBACA DENGAN TEKNIK SCRAMBLE
Secara umum rambu-rambu pembelajaran membaca degnan teknik scramble terbagi dalam 3 kegiatan yakni :
(a)   Persiapan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam persiapan meliputi :
1.      Menyiapkan sebuah wacana, kemudian keluarkan kalimat-kalimat yang terdapat dalam wacana tersebut ke dalam kartu-kartu kalimat.
2.      Setiap kartu karya mengandung satu kalimat.
3.      Kartu-kartu kalimat diberi nomor urut yang susunan pengurutannya sengaja dikacaukan.
4.      Membagi siswa dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan 4 sampai dengan 6 orang siswa dalam satu kelompok.
5.      Mengatur posisi tempat duduk agar kelompok yang satu dengan kelompok yang lain tidak saling mengganggu dan tidak saling terganggu.
6.      Merencanakan langkah-langkah kegiatan serta menentukan waktu yang dibutuhkan dalam kegiatan inti nanti untuk setiap fase.
(b)   Kegiatan inti
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam kegiatan inti meliputi :
1.      Setiap kelompok siswa siap dengan perangkat kartu kalimat yang telah dibagikan guru untuk didiskusikan dalam kelompoknya masing-masing.
2.      Guru meminta setiap kelompok siswa mengurutkan kartu-kartu tersebut menjadi sebuah susunan yang baik dan mudah ditangkap maksudnya.
3.      Setiap  kelompok  siswa  melakukan  diskusi kecil dalam kelompoknya untuk mencari susunan kartu-kartu kalimat yang dianggap baik dan logis.
4.      Guru memimpin diskusi kelompok besar untuk menganalisa dan mendengarkan pertanggungjawaban setiap kelompok kecil atas hasil kerja masing-masing kelompok.
5.      Setelah seluruh kelompok tampil, kegiatan diskusi dilanjutkan dengan perbincangan tentang pendapat dan komentar perseorangan agar melakukan uji banding atas hasil kerja setiap kelompok kecil serta mengkaji kelogisan setiap alasan dan bukti yang dikemukakan. Pada akhirnya mereka diharapkan dapat menentukan sikap atau pilihan sendiri atas susunan wacana yang logis.
6.      Setelah diskusi kelompok besar menghasilkan kesepakatan bersama tentang susunan wacana yang logis, kemudian guru menentukan teks/wacana asli.
7.      Satu atau dua orang siswa diminta untuk membacakan teks asli tersebut sehingga siswa/kelompok yang lain dapat membandingkannya.
8.      Pada akhir kegiatan inti ini satu atau dua orang siswa diminta untuk menceritakan kembali isi wacana tadi dengan menggunakan bahasa sendiri.
(c)   Tindak lanjut
Kegiatan tindak lanjut dapat dilakukan antara lain :
1.     Kegiatan pengayaan berupa pemberian tugas yang serupa dengan bahan yang berbeda
2.     Kegiatan menyempurnakan susunan teks asli, jika teks asli tidak memperlihatkan kelogisan.
3.     Kegiatan mengubah materi bacaan (memparafrase, atau menyederhakan bacaan)
4.     Mencari makna kosakata baru di dalam kamus dan mengaplikasinannya dalam pemakaian kalimat.
5.     Membetulkan kesalahan-kesalahan tata bahasa yang mungkin ditemukan dalam wacana latihan (bahan ajar).

BAHAN BACA DAN STRATEGINYA
Salah satu tugas mahasiswa adalah membaca. Agar anda dapat memanfaatkan waktu dengan efisien, anda perlu memiliki keterampilan membaca cepat. Disini akan disajikan bahasan singkat tentang strategi membaca cepat.

Hakekat Membaca Cepat

Membaca adalah kegiatan merespon lambang-lambang cetak atau lambang tulis dengan pengertian yang tepat. Hampir semua jenis keterampilan membaca dapat diperbaiki dengan jalan latihan. Jika faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan membaca tersebut dilatih dengan sebaik-baiknya, maka kemampuan membaca pun pasti membaik. Dengan demikian waktu yang digunakan untuk membaca akan bertambah singkat. Inilah sebenarnya hakekat dari strategi membaca cepat.
Strategi membaca cepat dilakukan dengan tujuan untuk memahami intisari bacaan, buku, bagian-bagian rinciannya yang detil. Karena itu, strategi ini menurut kecepatan yang paling tinggi yang bisa dilakukan seseorang. Kecepatan yang tinggi akan menyebabkan lompatan-lompatan dalam membaca.
Pembaca yang berpengalaman selalu membaca dengan cara melompati bagian-bagian yang dianggap tidak perlu mendapat respon. Anda harus mampu menentukan bagian-bagian yang merupakan kata kunci bagi anda, untuk memiliki kemampuan ini anda memerlukan bagian-bagian yang merupakan kata kunci bagi anda, untuk memiliki kemampuan ini anda memerlukan banyak latihan. Kalau anda dapat menangkap isi bacaan secara umum dengan kecepatan 100 kata atau lebih per menit, maka anda boleh merasa berhasil mempercepat cara membaca anda.

 

Manfaat Membaca Cepat

MC (membaca cepat) mempunyai beberapa keuntungan terutama dalam keadaan waktu terdesak. Dengan MC, orang dapat meninjau kembali secara cepat materi yang pernah dibacanya, memberi kesempatan untuk membaca secara lebih luwes, dengan MC orang bisa memperoleh pengetahuan yang luas tentang apa yang dibacanya, sesuai dengan sifat bacaan yang tidak memerlukan pendalaman.
Kunci utama MC ialah melaju terus. Saat mulai berlatih, ingat bahwa anda akan berusaha membiasakan gerakan mata dan proses berfikir yang diperlukan dalam MC. Yang diutamakan adalah menanamkan keinginan untuk membaca cepat. Bacalah lebih dulu bacaan-bacaan ringan yang judulnya tidak terlalu asing, sebelum bergerak pada bacaan yang anda anggap sulit dan asing.
Untuk berlatih membaca cepat dikenal istilah latihan irama internal (hitungan yang memakan waktu 1 detik/halaman yang dilakukan berulang-ulang dan terus-menerus selama membaca, diikuti dengan pindah halaman). Kemampuan membaca satu halaman per detik atau kira-kira 20.000 kata/menit adalah kemampuan yang hebat yang hanya bisa dicapai melalui latihan yang intensif dan disiplin serta minat baca yang tinggi.

Persiapan Memperbaiki Daya Baca

Untuk meningkatkan kemampuan membaca anda dituntut mengikuti resep berikut ini :
1.      Waktu berlatih setiap hari atau setiap dua hari untuk memperbaiki daya baca.
2.      Memberikan kegiatan lain untuk tidak mengganggu rencana latihan yang telah anda tentukan itu.
3.      Anda akan bertemu dengan saat-saat perasaan tidak mendapat kemajuan.
4.      Mulailah dengan bacaan yang isi dan kata-katanya cukup akrab bagi anda, yang idenya mudah ditangkap.
5.      Bergeraklah menuju bacaan yang lebih sulit.
6.      Membacalah dengan agresif untuk menjawab berbagai pertanyaan.
7.      Tentukan terlebih dahulu tujuan anda membaca.
8.      Perhatikan pola rencana penulisan si pengarang.
9.      Kurangi sedapat-dapatnya vokalisasi dalam setiap kegiatan membaca senyap.
10. Membacalah dengan tekanan progresif.
11. Tingkatkan penguasaan kosakata anda.
12. Tingkatkan pengetahuan anda.
13. Jagalah supaya anda tidak terikat oleh kecepatan semata-mata.
14. Jagalah supaya gairah anda tidak melesu.
Selanjutnya mari kita pelajari strategi lain untuk meningkatkan daya baca kita.

Penggunaan Metode Membaca Frase (Metode MF)
Metode MF dapat dikembangkan melalui dua tahap : tahap mekanis dan tahap konseptual. Pada tahap mekanis, mata didorong untuk bergerak lebih cepat dengan jalan melihat kelompok-kelompok kata yang disebut frase. Efisiensi pada tahap mekanis dapat memberikan sumbangan terhadap pemahaman makna secara lebih efektif.

Membaca Frase Mekanis (MF Mekanis)
Berdasarkan pandangan mekanis, membaca merupakan rentetan hentian-hentian visual, hentian untuk melihat sesuatu dan makna sesuatu dengan cepat. Membaca frase ini lebih banyak menghemat waktu, dapat membaca ¾ kali lebih cepat dari membaca kata demi kata.
Kelemahan lain yang menjadi ciri membaca kata demi kata ialah regresi atau membaca balik yang disebabkan karena usahanya mencari ide-ide yang tidak diperolehnya dari masing-masing kata yang dibacanya. Sekali lagi, dalam usaha mengembangkan keterampilan MF pun latihan merupakan hal yang sangat pokok.

Latihan Pada Tingkat Mekanis
Latihan Ayunan Visual
Usaha mengembangkan kemampuan membuat ayunan-ayunan visual dengan cara mata hanya boleh berhenti sejenak pada setiap tanda hitam, lalu ayunkan segera pandangan ketanda berikutnya. Jangan sekali-kali berhenti diantara dua tanda hitam jangan pula menggerakkan kepala.
Latihan Membaca dengan Ayunan Visual
Buatlah bagian awal dan bagian  akhir setiap baris sebagai target. Bergeraklah dengan cepat sampai bagian bawah halaman tanpa memperhatikan makna, agar 1 irama gerak mata yang licin tidak baku.
Membaca Frase pada Tingkat Konseptual.
Latihan berikut banyak memperhatikan aspek-aspek konseptual, ialah penalaran  dan pemahaman yang terjadi selama membaca.
Latihan Pengelompokan Satuan Ide.
Ada tiga hal yang harus dicapai dalam latihan ini :
a.       Kecepatan membaca.
b.       Kecepatan menangkap makna.
c.       Kelancaran ayunan pandangan mata dari frase satu ke frase berikut.
Frase dibatasi sebagai kelompok kata yang mempunyai arti, untuk kepentingan latihan, paragraf dikelompok-kelompokan berdasarkan satuan-satuan idenya, setiap kelompok kata dikotaki, anda harus membaca tiap kotak sekilas bergerak dari satu kotak ke kotak lainnya.
Contoh :
Penandaan dengan Titik.
Untuk latihan bubuhi dengan titik-titik ditengah-tengah setiap paragraf yang ada di dalah paragraf.
Contoh :
Anda dapat membuktikan kepada diri sendiri betapa pentingnya membaca frase itu dengan memperhatikan pola pidato atau pembicaraan seseorang yang mudah diikuti.
Latihan MF Tanpa Tanda
Dilakukan dengan membuat kelompok-kelompok kata yang mengandung pengertian tertentu dengan menggunakan kemampuan mental dengan tidak menggunakan tanda-tanda apapun. Lakukan latihan seperti itu beberapa kali.
 

Membaca Paragraf

Kata paragraf berasal dari bahasa Yunani. Para berarti samping/pinggir, dan graphein yang berarti menulis. Paragraf ialah sekelompok kalimat yang secara bersama-sama membicarakan hanya satu pikiran utama.
Cara membaca paragraf :
1.       Camkan bahwa paragraf adalah sebuah unit bacaan.
2.       Bacalah kalimat pertama paragraf dengan cermat.
3.       Bacalah kalimat terakhir paragraf yang anda baca.
4.       Perhatikan semua fakta dalam paragraf secara seksama.
5.       Belajarlah mengenal kalimat yang tidak mendukung.
6.       Perhatikan kata-kata yang dicetak miring dan yang dicetak tebal.
7.       Terkalah pikiran penulis.
8. 
Membaca dengan tujuan untuk memperoleh fakta terinci harus dilakukan sebagai berikut. Fokuskan/pusatkan perhatian anda pada pikiran utama.
Membaca Bab
Ada dua hal yang perlu anda camkan dalam usaha membaca bab dengan cepat dan cermat:
1)       Survei/periksalah bab yang anda baca dengan suatu tujuan tertentu.
2)       Bacalah bab tersebut untuk mencari fakta.
Lihat-lihatlah bab yang anda baca dengan tujuan yang jelas, baca sepintas sebagai pendahuluan untuk mengirit tenaga dan memberi penguasaan umum tentang isi bab, setelah selesai survei siap untuk membaca lebih teliti mencari fakta-fakta dan detail-detail yang mendukungnya. Setelah selesai membaca bab tertentu, sangat bijaksana jika anda membuat kartu baca, yakni catatan-catatan penting sebagai hasil baca pada kartu yang berukuran kira-kira 13 x 18 cm.

Prosedur Membaca Bab

1)       Perhatikan judul bab dengan teliti.
2)       Buka balikkan daftar isi. Pelajari hubungan bab yang sedang dibaca dengan bab-bab lainnya.
3)       Perhatikan berbagai tipe penulisan dan ciri-ciri tipografis.
4)       Baca judul-judul secara sepintas.
5)       Periksalah kalau-kalau ada ikhtisar pada akhir bab.



WRITING DAN TEKNIK-TEKNIK PEMBELAJARANNYA

In higher education, writing is one of the learning requirements for the students to be succesful in their study. Almost all of the assignments and also the tests demand them to write logically and systematically. Those include authentic and scientific writing. This requires the students to master some microskills and produce good writing. Since making the students to be good writers is not easy, the teacher, especially for the writing class should create a conducive classroom by designing or applying several appropriate learning methods based on the principles of designing a good writing classroom. It can be expected that such a class will create creative and critical students, especially in writing.

I.            PENDAHULUAN
Mengapa pembelajaran writing (menulis) di perguruan tinggi dianggap perlu? Di perguruan tinggi, menulis merupakan ‘a way of life’. Ini dapat dimaknai bahwa sebagian besar aktivitas mahasiswa, baik berupa tugas-tugas harian dari dosen, ujian semester, maupun pengisian kelengkapan administrasi, membutuhkan keterampilan menulis. Tanpa kemampuan yang memadai dalam menulis, mahasiswa akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik, bahkan mungkin tidak akan dapat menyelesaikan studinya.
Kecenderungan dalam pembelajaran writing (menulis) pada pembelajaran bahasa Inggris atau bahasa-bahasa asing lainnya serupa dengan pembelajaran keterampilan-keterampilan yang lain, khususnya listening (menyimak) dan speaking (berbicara). Pembelajaran komunikatif saat ini mengharuskan dosen memahami bagaimana mengajarkan fluency (kelancaran), bukan hanya accuracy (akurasi), bagaimana menggunakan teks otentik dan konteks dalam ruang kelas, bagaimana memfokuskan pada tujuan-tujuan komunikasi linguistik, dan bagaimana meningkatkan motivasi mahasiswa.
Pada kegiatan pembelajaran writing di kelas, dosen lebih berperan sebagai fasilitator dan responder terhadap tulisan mahasiswa. Sebagai fasilitator, dosen memberikan bimbingan untuk membantu mahasiswa terlibat dalam pengembangan pemikiran dan pemunculan ide-ide dalam proses menulis, tetapi tidak diperbolehkan memaksakan ide-idenya ke dalam tulisan mahasiswa. Peran dosen lebih kepada memberikan umpan balik dalam bentuk koreksi atau komentar. Meskipun demikian, menurut Chandrasegaran intervensi dapat dilakukan oleh dosen pada proses kegiatan menulis mahasiswa dengan tujuan:
a)     Untuk pembuatan keputusan yang lebih efektif
Dosen boleh melakukan intervensi dengan cara membantu mahasiswa mengevaluasi pilihan-pilihan yang telah mereka buat terkait dengan makna (ide-ide) dan bahasa (kata-kata dan kaidah bahasa). Dosen dapat memberikan bantuan untuk memudahkan mahasiswa memperbaiki teks sebelum dikumpulkan untuk dinilai. Intervensi terjadi ketika mahasiswa sudah menulis sebagian dari teks yang diminta, atau telah melengkapi sebagian tahapan pada planning, writing, atau revising.
b)     Mahasiswa dapat lebih memahami apa yang diharapkan oleh pembaca
Sebuah tulisan dikatakan berhasil jika pembaca yang menjadi sasaran menganggapnya demikian, yang berarti bahwa teks tersebut “benar” sesuai tujuannya. Oleh karena itu, dosen dapat membantu mahasiswa dalam memahami apa yang diinginkan oleh pembaca yang menjadi sasaran sebuah tulisan.

II.            MICROSKILL PADA KETERAMPILAN WRITING
Untuk menguasai keterampilan menulis, mahasiswa harus memiliki sejumlah microskill yang sangat penting bagi seorang penulis yang efektif, yaitu:
a)     Menghasilkan pola-pola tulisan tangan atau orthographic bahasa Inggris.
b)     Menghasilkan tulisan dengan tingkat kecepatan yang efisien sesuai dengan tujuan.
c)      Menghasilkan rangkaian kata yang dapat dipahami dan menggunakan pola urutan kata yang tepat.
d)     Menggunakan sistem gramatikal yang dapat diterima (misal tense, agreement, pluralization, pattern, dan rule).
e)     Mengungkapkan makna khusus pada berbagai bentuk gramatikal.
f)       Menggunakan tanda-tanda kohesif pada wacana tertulis.
g)     Menggunakan bentuk dan peraturan retoris untuk wacana tertulis.
h)     Mencapai fungsi-fungsi komunikatif teks tertulis secara tepat sesuai dengan bentuk dan tujuan.
i)        Menghubungkan berbagai peristiwa dan mengkomunikasikan hubungan-hubungan ini sebagai ide utama, ide penunjang, informasi baru, informasi yang telah ada, generalisasi, dan pemberian contoh.
j)        Membedakan antara makna eksplisit dan implisit ketika menulis.
k)      Menyampaikan referensi spesifik dalam konteks teks tertulis secara benar.
l)        Mengembangkan dan menggunakan serangkaian strategi menulis, seperti menilai interpretasi pembaca secara tepat, menggunakan prosedur-prosedur pre-writing, menulis dengan lancar pada draft pertama, menggunakan parafrase dan sinonim, meminta umpan balik dari dosen dan teman, dan menggunakan umpan balik untuk revisi dan editing.

III.            PERFORMA WRITING
Dalam proses pembelajaran menulis, ada beberapa kategori kegiatan menulis yang bisa dijadikan tugas ketika melakukan aktivitas di dalam ruang kelas yang dikemukakan oleh Brown.
a)     Menyalin (imitative writing)
Pada tingkatan permulaan menulis, mahasiswa hanya akan “menyalin” huruf-huruf, kata-kata, dan mungkin kalimat ketika mempelajari aturan-aturan kode ortografis. Beberapa bentuk dikte masuk dalam kategori ini, walaupun dikte juga dapat diajarkan pada proses menulis yang lebih tinggi. Dikte biasanya melibatkan langkah-langkah berikut:
F     Dosen membaca sebuah paragraf pendek satu atau dua kali dengan kecepatan normal.
F     Dosen membaca paragraf frasa demi frasa dengan masing-masing tiga atau empat kata, dan tiap frasa diikuti dengan jeda.
F     Selama jeda, mahasiswa menuliskan apa yang mereka dengar.
F     Dosen kemudian membaca seluruh paragraf sekali lagi dengan kecepatan normal sehingga mahasiswa dapat mengecek tulisan mereka.
F     Menyekor tulisan mahasiswa dapat menggunakan sejumlah kriteria untuk memberikan poin. Biasanya kesalahan ejaan dan tanda baca tidak digolongkan pada kesalahan gramatikal.

b)     Intensif atau terkontrol (Intensive/Controlled Writing)
Menulis kadang kala digunakan sebagai sebuah cara untuk mempelajari, memperkuat, atau menguji konsep-konsep gramatikal. Menulis intensif dapat dilakukan melalui latihan-latihan grammar tertulis dan terkontrol. Jenis writing ini tidak menuntut banyak kreatifitas dari penulis. Bentuk umum writing terkontrol adalah memberikan paragraf kepada mahasiswa di mana mereka harus mengubah seluruh struktur kalimat pada paragraf tersebut; misalnya mengubah dari present tense menjadi past tense. Menulis terbimbing (guided writing) melonggarkan kontrol dosen tetapi tetap memberikan serangkaian stimulus. Sebagai contoh, dosen dapat menyuruh mahasiswa menuliskan sebuah cerita dengan rangkaian pertanyaan dari dosen: Where does the story take place? Describe the principal character. What does he say to the woman in the car?
Salah satu bentuk menulis terbimbing lainnya adalah dicto-comp. Paragraf dibacakan dengan kecepatan normal, biasanya dua atau tiga kali; kemudian dosen meminta mahasiswa untuk menuliskan kembali paragraf. Kadang kala dosen menuliskan sejumlah kata kunci secara berurutan guna membantu mahasiswa.
c)      Menulis mandiri (Self-Writing)
Proporsi tugas menulis di kelas yang paling banyak mungkin pada self-writing, atau menulis hanya dengan diri sendiri sebagai audiens. Contoh paling nyata dari bentuk ini adalah mencatat materi perkuliahan yang disampaikan oleh dosen. Diary (catatan harian) atau tulisan jurnal juga termasuk kategori ini. Pada jurnal, mahasiswa mencatat pikiran, perasaan, dan reaksi, dan dosen memberikan respon berupa komentar tentang tulisan mereka.
d)     Tulisan ilmiah (Display Writing)
Bagi semua mahasiswa yang belajar bahasa Inggris, latihan-latihan tanya jawab, ujian essay, dan laporan penelitian akan melibatkan elemen display. Kaitannya dengan bidang akademik, salah satu keterampilan akademik yang harus mereka kuasai adalah serangkaian teknik menulis display.
e)     Tulisan otentik (Real Writing)
Jenis tulisan ini bertujuan untuk betul-betul mengkomunikasikan pesan yang diinginkan kepada pembaca. Ada tiga kategori:
F    Akademis. Kelompok-kelompok mahasiswa di kelas pada umumnya saling bertukar informasi dalam bentuk tertulis. Tugas-tugas kelompok, khususnya yang terkait dengan isu-isu dan topik saat ini, bisa jadi memiliki komponen writing di mana informasi betul-betul dicari dan disampaikan. Kegiatan yang lain adalah peer-editing.
F    Kejuruan/teknis. Membuat tulisan harus juga dilakukan oleh orang-orang yang belajar bahasa Inggris karena tuntutan pekerjaan. Tulisan-tulisan tersebut biasanya dalam bentuk surat, pengisian blangko, atau pembuatan prosedur-prosedur pengoperasian suatu alat.
F    Personal. Tulisan jenis ini meliputi diary (catatan harian), surat, kartu pos, catatan, pesan pribadi, dan tulisan-tulisan informal lain.

IV.            PRINSIP-PRINSIP MENDESAIN TEKNIK WRITING
Tidak ada suatu kegiatan yang bisa terlaksana dengan baik bila tidak direncanakan dan didesain dengan baik. Demikian pula kegiatan pembelajaran. Hasil lebih maksimal akan mungkin dicapai bila kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan didesain dengan baik. Untuk itu, perlu bagi seorang guru atau dosen untuk mengacu kepada prinsip-prinsip tertentu ketika mendesain kegiatan pembelajaran di kelas. Di kelas writing, ada sejumlah prinsip yang dikemukakan oleh Brown yang dapat dijadikan landasan dalam mendesain teknik writing, meliputi:
1.      Terapkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh penulis yang “baik”
Saat menggunakan sebuah teknik writing, pertimbangkan beberapa hal yang dilakukan penulis yang efektif, misalnya:
F    Fokuskan pada tujuan atau ide utama dalam menulis
F    Secara cerdas berupaya mengukur audiens mereka
F    Memanfaatkan waktu (tetapi tidak terlalu lama) untuk perencanaan menulis
F    Membiarkan ide-ide pertama mereka mengalir di kertas
F    Mengikuti rencana umum pengorganisasian ketika menulis
F    Mencari dan menggunakan umpan balik pada tulisan mereka
F    Tidak terikat pada struktur permukaan tertentu
F    Merevisi hasil tulisan mereka dengan sungguh-sungguh dan efisien
F    Melakukan revisi sesuai dengan yang dibutuhkan

2.      Keseimbangan proses dan produk. Karena menulis adalah proses mengarang dan biasanya membutuhkan beberapa draft sebelum dihasilkan sebuah produk tulisan yang efektif, pastikan bahwa mahasiswa secara seksama melalui tahap-tahap yang tepat pada proses mengarang. Tahap ini meliputi perhatian pada peran anda sebagai pembimbing dan sebagai perespon. Pada saat yang bersamaan, jangan terlalu terpaku pada pada tahap-tahap menuju hasil akhir yang menyebabkan anda mengabaikan pencapaian akhir: sebuah tulisan yang jelas, kritis, tersusun baik, dan efektif. Pastikan mahasiswa mengetahui bahwa apapun proses yang dilalui menuju hasil akhir ini merupakan upaya yang berharga.
3.      Mempertimbangkan latar belakang kultural/sastra Pastikan bahwa teknik-teknik yang digunakan tidak menganggap bahwa mahasiswa tahu aturan-aturan retoris bahasa Inggris. Jika ada, sejumlah pertentangan nyata antara tradisi asal mahasiswa dengan apa yang akan anda ajarkan, cobalah untuk membantu mahasiswa memahami pertentangan tersebut dan secara perlahan membawa mereka pada penggunaan retoris bahasa Inggris yang dapat diterima.
4.      Hubungkan antara kegiatan membaca dengan menulis Jelas bahwa mahasiswa belajar menulis sebagian dengan cara mengamati apa yang sudah tertulis. Jadi, mereka belajar dengan mengamati atau membawa kata-kata yang tertulis. Dengan membaca dan mempelajari berbagai tipe teks yang relevan, mahasiswa dapat memperoleh wawasan pengetahuan yang penting tentang bagaimana mereka harus menulis dan tentang subjek yang mungkin akan menjadi topik tulisan mereka.
5.      Memberikan sebanyak mungkin tulisan otentik Apakah tulisan berupa real writing atau untuk display, tulisan tersebut tetap otentik jika tujuannya jelas bagi mahasiswa, audiensnya jelas, dan ada maksud untuk menyampaikan makna. Mengerjakan tugas writing bersama-sama dengan mahasiswa lain di kelas merupakan salah satu cara untuk menambah keotentikan. Membuat laporan kelas, menulis surat untuk orang-orang di luar kelas, menulis naskah untuk presentasi drama, menulis resume, menulis iklan – semuanya dapat dianggap sebagai menulis otentik.
6.      Susunlah teknik menulis anda dengan urutan tahap pre-writing, drafting, dan revising. Pendekatan menulis proses cenderung dilakukan dalam tiga tahap menulis. Tahap pre-writing mendorong munculnya ide-ide dalam berbagai cara:
F     Membaca sebuah wacana
F     Skimming (membaca cepat) dan/atau scanning (membaca detil)
F     Melakukan penelitian
F     Brainstorming (tukar pendapat)
F     Membuat daftar secara individu
F     Mengelompokkan (dimulai dengan kata kunci, kemudian tambahkan kata-kata lain dengan menggunakan hubungan bebas)
F     Membahas sebuah topik atau pertanyaan
F     Pertanyaan-pertanyaan dan tes dari dosen
F     Menulis bebas
Tahap drafting dan revising merupakan inti dari proses menulis. Pada pendekatan tradisional dalam pembelajaran writing, mahasiswa diberi tugas mengarang di kelas untuk menulis dari awal hingga selesai selama perkuliahan berlangsung atau diberi tugas rumah. Aktivitas/cara tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk fokus pada tahap drafting. Pada pendekatan proses, drafting dipandang sebagai rangkaian strategi yang penting dan kompleks, menguasainya membutuhkan waktu, kesabaran, dan dosen yang terlatih.
Beberapa strategi dan keterampilan yang dapat diterapkan pada proses drafting/revising dalam menulis:
F     Proses memulai (adaptasi dari teknik mengarang bebas)
F     Monitoring yang “optimal” terhadap tulisan seseorang (tanpa editing yang prematur dan mengabaikan pemilihan kata, tata bahasa, dan lain-lain)
F     Review dari rekan mahasiswa untuk isi tulisan (memanfaatkan komentar rekan-rekan sekelas)
F     Memanfaatkan feedback dari dosen
F     Editing terhadap kekeliruan gramatikal
F     Teknik “read aloud” (membaca keras) (dalam kelompok kecil atau berpasangan, mahasiswa membacakan draft mereka yang hampir selesai kepada teman-teman mereka untuk pemeriksaan akhir terhadap kesalahan, runtutan ide, dan lain-lain)
F     Proofreading (membaca kritis)
7.      Berupaya menawarkan teknik-teknik yang seinteraktif mungkin
Tidak diragukan lagi bahwa pendekatan proses terhadap pembelajaran writing sangatlah interaktif (karena mahasiswa bekerja berpasangan dan berkelompok untuk menghasilkan ide-ide dan untuk melakukan kegiatan editing dengan rekannya), serta learner-centered (terpusat pada mahasiswa) (dengan kesempatan yang luas bagi mahasiswa untuk memulai aktivitas dan bertukar pikiran). Teknik-teknik writing yang memfokuskan pada tujuan-tujuan lain selain karangan (seperti surat, formulir, memo, petunjuk, laporan singkat) juga merupakan kegiatan-kegiatan yang harus mengacu pada prinsip-prinsip kegiatan kelas yang interaktif. Kolaborasi kelompok, tukar pikiran, dan mengkritik merupakan bagian dari teknik-teknik yang memfokuskan pada writing.
8.      Secara peka menerapkan metode merespon dan mengoreksi tulisan mahasiswa anda. Koreksi kesalahan dalam writing harus dilakukan dengan cara yang berbeda. Karena writing, tidak seperti speaking, seringkali meliputi tahap perencanaan yang panjang, koreksi terhadap kesalahan yang dimulai pada tahap drafting dan revising, yang merupakan waktu yang paling tepat untuk mengoreksi dibandingkan dengan pada tahap-tahap menulis yang lain. Ketika mahasiswa menerima respon terhadap hasil tulisan mereka, kesalahan – yang hanya merupakan salah satu aspek untuk direspon – jarang diperbaiki oleh dosen; sebaliknya, kesalahan-kesalahan tersebut diperbaiki melalui self-correction (koreksi sendiri), peer-correction (koreksi oleh rekan), dan komentar-komentar oleh dosen. Sejalan dengan hal ini, Mc Crimmon juga mengemukakan beberapa tahapan dalam menulis:
a)     Pre-writing
Pada aktivitas pre-writing, sebelum mulai memunculkan ide-idenya dalam bentuk sebuah tulisan di atas selembar kertas, seorang penulis harus mempertimbangkan hal-hal berikut: Apakah tujuan tulisan ini dibuat? Untuk siapa tulisan ini ditujukan?
Ketika hal ini dikembangkan menjadi tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh pembelajar ketika mempersiapkan tulisannya, relevansi tugas tersebut dapat diperluas, misalkan sebagai berikut: berpikir mengenai isi, berpikir mengenai pembaca, dan persiapan yang sistematis untuk menulis.
b)     Composing and drafting
Selama mengarang, seorang penulis merangkai kalimat-kalimat menjadi sebuah tulisan yang paling sesuai dengan apa yang ingin mereka sampaikan kepada pembaca mereka. Mengarang hanyalah salah satu bagian dari suatu rangkaian, dan momen ketika pertama kalinya pena penulis menyentuh kertas.
c)      Revising and editing
Tahap revisi atau perbaikan menyatu dengan proses menulis dan sangat berbeda dengan apa yang sering terjadi pada konsep awal tulisan seorang pembelajar. Pada kenyataannya, sebuah tulisan yang panjang bisa saja mengalami beberapa kali revisi sebelum benar-benar menjadi sebuah tulisan yang siap disajikan kepada pembaca.

V.            KESIMPULAN
Menulis merupakan aktivitas psikologis seorang pengguna bahasa untuk menampilkan informasi dalam bentuk tertulis yang di dalamnya terkandung topik tertentu yang ingin disampaikan kepada pembaca. Untuk menyelesaikan sebuah tulisan, baik dalam bahasa penutur maupun bahasa asing, seorang pembelajar harus melaksanakan beberapa tahapan yang secara umum terdiri atas perencanaan (planning atau pre-writing), pembuatan konsep dan tulisan (drafting), dan perbaikan (revising). Sejumlah teknik dan strategi dapat diterapkan oleh guru atau dosen di ruang kelas untuk membelajarkan keterampilan menulis sehingga pembelajar dapat menghasilkan tulisan yang menarik dan berkualitas. Penerapan teknik atau strategi tertentu semestinya disesuaikan dengan karakteristik pembelajar, kebutuhannya, dan tujuan dari pembelajaran. Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta kelas writing yang kondusif guna memunculkan performa writing pembelajar secara maksimal.

1 komentar: