Pages

Minggu, 05 April 2009

ASAL USUL NAMA YOGYAKARTA

Nama Yogyakarta berasal dari kata Ayodya, nama sebuah kerajaan terkenal dalam jagad wayang dalam serial epos Ramayana. Ayodya adalah kerajaan tempat Sri Rama dilahirkan. Mengapa nama itu dipilih? Berikut ini ceritanya.
Sebelum di Yogyakarta dan Surakarta didirikan kerajaan, wilayah itu menjadi satu dan disebut Mataram dengan ibukota Kartasura, yang jaraknya kurang-lebih sepuluh kilometer disebelah barat Surakarta (yang sekarang terkenal dengan sebutan kota Solo). Di kerajaan ini, bertahta Susuhunan Paku Buwono II. Pada tahun 1740, di Batavia yang sekarang disebut Jakarta, terjadi pemberontakan, yang merembet ke Kartasura, sehingga kerajaan itu, pada tahun 1742 jatuh. Raja beserta pasukan dan semua nara praja melarikan diri kea rah timur, yakni ke suatu tempat, yang kemudian dinamakan Surakarta. Pemerintah penjajahan Belanda atau kompeni ikut membantu memulihkan wibawa raja di tempat yang baru. Namun, keadaan belum juga tenang. Sebab, Raden Mas Said, kemenakan raja, memberontak. Kemudian raja membuat semacam sayembara, yakni: siapapun yang dapat memadamkan pemberontakan itu akan dihadiahi tanah yang luas sekali di daerah Sokowati. Tertarik dengan hadiah itu, Pangeran Mangkubumi, adik raja menyanggupkan diri untuk menenteramkan keadaan. Akan tetapi, Patih Pringgoloyo tidak setuju.
“Kalau Pangeran Mangkubumi mendapatkan hadiah tanah yang begitu luas, ia akan terlalu kuat. Itu berbahaya!” Kata pada saat itu sembari menghaturkan sembah. Sementara masalah itu belum dapat diselesaikan, datanglah Gubernur Jenderal Van Imhoff menagih janji kepada Susuhunan, yakni tanah di pantai utara, sebagai pembayaran atas jasanya membantu memadamkan pemberontakan di Kartasura dan menenteramkan keadaan.
“Hamba setuju. Hamba setuju. Bapak Gubernur Jenderal pan Imop harus diberi hadiah tanah itu. Dan wilayah Sokowati jangan diberikan kepada Pangeran Mangkubumi. Jangan. Pokoknya jangan. Dibatalkan saja janji itu!” Kata Patih Pringgoloyo dengan suara melengking-lengking. Tentu saja, Pangeran Mangkubumi sangat marah mendengar kata-kata yang diucapkan Pringgoloyo. Susuhunan Paku Buwono II, sebenarnya, maklum akan amarah Mangkubumi. Tetapi, Gubernur Jenderal van Imhoff menegur Pangeran Mangkubumi agar dapat menahan diri.
“Kamu harus bersikap sopan Mangkubumi,” kata van Imhoff. Dapat dibayangkan malu Pangeran Mangkubumi. Di rumah sendiri, di kerajaan sendiri, di tanah air sendiri, dikata-katai seperti itu. Karena tidak dapat menahan amarahnya, Mangkubumi segera memberikan sembah kepada Susuhunan Paku Buwono II, dan mohon diri. Ia bergabung dengan Raden Mas Said, orang yang seharusnya tumpas, untuk melawan Belanda yang amat sangat kurang ajar itu.
Pemberontakan yang dipimpin dua bangsawan tangguh semakin hari semakin meluas. Pada tahun 1750, dibawah pimpinan Raen Mas Said, yang juga dikenal dengan Pangeran Samber Nyawa, pasukan pemberontak menyerbu Surakarta. Lagi, kompeni Belanda diminta bantuan untuk mengusirnya. Berhasil memang, tetapi ratusan tentara Belanda terbunuh; beberapa luka parah. Bahkan dua tahun kemudian, 1752, pemberontakan semakin merajalela. Pangeran Mangkubumi berhasil membujuk rakyat dari Madura sampai Banten untuk menolak semua perintah Belanda.
Sementara itu, Paku Buwono II sudah digantikan oleh Paku Buwono III dan van Imhoff sudah diganti von Hohendorff. Dua tahun kemudian, Gubernur Jenderal ini diganti oleh Nicolaas Hartingh. Ia segera menghubungi Mangkubumi dan melalui seorang ulama berdarah Turki, bernama Syeh Ibrahim alias Sarip Besar, menawarkan perdamaian. Tawaran diterima dengan syarat, Mataram dibagi dua. Pembagian kerajaan ini dikenal dengan nama Perjanjian Gianti, yang dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 1755.
Bagaimana dengan Raden Mas Said yang berjuang bersama-sama dengan Mangkubumi? Kelihaian Belanda adalah memecah belah, mengadu domba, dan kemudian menguasainya. Sebelum Hohendorff diganti Hartingh sudah menghubungi Raden Mas Said dan menawarkan kedudukan sebagai putra mahkota; tetapi ditolaknya. Cara-cara Hohendorff melakukan kontak dibuat sedemikian rupa, sehingga Mangkubumi mencurigai Raden Mas Said. Oleh karena itu, keduanya pecah: mereka berjuang sendiri-sendiri.
Tatkala Perjanjian Gianti ditandatangani, Susuhunan Paku Buwono III menyerahkan keris pusaka bernama Kyai Kopek, yang semula milik Sunan Kali Jaga, kepada Mangkubumi. Pada saat itulah, Mangkubumi resmi menjadi raja dan bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Maka, sekarang tibalah waktunya untuk mencari tempat dimana istana akan didirikan. Sementara usaha sedang berlangsung, Sultan berkenan bertempat tinggal di Ambar Ketawang,. Tidak terlalu jauh dari Art Gallery milik pelukis terkemuka, Drs. H. Amri Yahya.
Beberapa punggawa kerajaan diutus untuk mencari tempat yang tepat. Tentu saja, ini bukan pekerjaan yang mudah. Sebab, walaupun pada waktu itu ilmu pengetahuan membangun rumah belum maju seperti sekarang, pengetahuan tradisional sudah cukup sebagai bekal. Namun, karena kegigihan para punggawa, akhirnya tempat itu ditemukan, yaitu hutan Garjitawati, tidak jauh dari desa Beringan. Sultan pun menyetujuinya. Lalu, akan diberi nama apa kerajaan baru itu?
Alkisah, tatkala masih memimpin perang, oleh para prajurit dan punggawanya yang dekat, Pangeran Mangkubumi senantiasa dipandang mereka dengan penuh kekaguman. Apalagi, tatkala Mangkubumi berhasil menghimpun rakyat dari pantai utara untuk melawan Belanda. Ini bukan pekerjaan yang mudah. Kemampuan beliau menghimpun rakyat, dipandang para punggawa dan prajurit, bagaikan Sri Rama yang mengerahkan pasukan kera melawan bala tentara raksasa dari kerajaan Alengka. Oleh karena itu, Mangkubumi dijuluki seorang ahli perang. Namun, Mangkubumi juga dikenal sebagai seorang yang gemar bertapa dan bersemedi. Tujuannya, untuk merenungkan semua peristiwa dan mempertimbangkan tindakan yang tepat sebelum melakukannya. Menurut beberapa punggawa, selepas bersamadi, wajah Mangkubumi tampak bersinar; bahkan, dari kedua matanya memancarkan cahaya yang menyorot. Siapa pun yang dipandangnya bagai disentuh hatinya. Tidaklah mengherankan jika punggawa membayangkan bahwa Mangkubumi adalah jelmaan Dewa Wisnu.
Dalam wayang, Dewa Wisnu menjelma menjadi Krishna yang berkerajaan di Dwarawati. Ia menjadi penasihat keluarga Pandawa yang memenangkan pertempuran besar, Bharatayudha. Bagi para punggawa, sebelum Dewa Wisnu menjelma menjadi Krishna, terlebih dahulu menjelma menjadi Sri Rama yang berkerajaan di Ayodya. Karena Mangkubumi yang sudah bergelar Sultan Hamengku Buwono I dipandang sebagai jelmaan Dewa Wisnu dalam ujud Sri Rama, pantaslah jika kerajaannya disebut Ayodya. Demikianlah, maka kerajaan itu disebut Ayodya, yang kemudian disingkat menjadi Yodya.
Setiap penamaan, terkadang bukan hanya memberi tanda kepada sesuatu atau seseorang, tetapi juga terkandung harapan. Apalagi, kerajaan itu dibangun dengan kekuatan senjata, pertaruhan jiwa dan raga. Harapan para punggawa, setelah kerajaan Yodya dibangun, seterusnya aman dan tenteram, damai dan sejahtera. Itulah sebabnya, nama Yodya ditambah dengan karta, yang mengandung arti serba baik. Demikianlah, kerajaan itu, kemudian, disebut Yodyakarta. Dalam perkembangan selanjutnya, mungkin karena ucapan, nama itu menjadi Yogyakarta hingga sekarang. Di sebelah utara istana Yogyakarta ada sebuah pasar yang kini dibangun bagus sekali, disebut Beringharja, yang semula desa Beringan, yang letaknya disebelah utara hutan Garjitawati.

1 komentar: